gentlemancode.id
Ini Dia, Cara Sehat Kabur Dari Rutinitas

INI DIA, CARA SEHAT KABUR DARI RUTINITAS

Published on Thursday, 21 July 2016

Libur panjang adalah waktu yang berbahagia dan ditunggu-tunggu oleh banyak orang. Karena rutinitas monoton sehari-hari, berangkat, kuliah / bekerja, pulang, tidur dan begitu seterusnya selama 5 hari kerja dalam satu minggu. Kerasnya jalanan Ibu Kota yang terasa sesak oleh asap kendaraan bermotor yang saling berebut untuk mendahului membuat Genta berfikir – ga sehat, nih.  

Itulah yang terkadang menyebabkan Genta merasa rindu pada sejuknya udara alam bebas tanpa terhalang gedung. Nyaris tidak ada polusi, Genta ingat akan udara dingin yang menyapa saat Ia tiba di Ranu Pane – titik awal perjalanan menuju gunung tertinggi di pulau Jawa, Semeru.

Hmm seru, seru..Genta pernah naik gunung.

15 September 2014, Genta, mas Andre dan sejumlah orang kawan lainnya berangkat bersama dari Jakarta menuju Surabaya naik pesawat. Lalu kemudian mereka melanjutkan perjalanan via mobil sewaan menuju kaki gunung Semeru. Dilanjutkan dengan menyewa mobil jip, khusus untuk mengantar Genta dan kawan-kawan via jalanan menanjak serta berkelok, menuju Ranu Pane.

“Ini akan mejadi pengalaman yang sangat berkesan..” , bisik Genta dalam hati.

Setibanya di sana, mereka langsung beristirahat, makan siang sekaligus melakukan pemeriksaan terakhir sebelum akhirnya berangkat trekking selama 6 jam menuju salah satu campsite terindah yang pernah ada. Hari semakin sore dan udara terasa semakin dingin. Sambil terus berjalan, sebagian dari mereka memutuskan untuk segera mengenakan jaket.

Dan saat matahari mulai tenggelam, di kejauhan mulai terlihat banyak titik cahaya dari tenda para pendaki di tepi danau Ranu Kumbolo. Perasaan lega muncul karena perjalanan melelahkan mereka telah selesai, disambut indahnya pemandangan di sana. Lanjut, pasang tenda, masak, makan dan tidur!

Pagi menyapa dengan indahnya cahaya matahari yang mulai muncul sebagian dari bukit di sebelah barat. Mereka mandi dengan seadanya karena, demi menjaga kebersihan air, para pendaki dilarang untuk berendam di dalam danau.

“Seger beneeerr”, teriak Genta sambil setengah menggigil.

Setelah tenda selesai dibereskan, mereka memulai perjalanan menuju campsite kedua, Kalimati. Di tengah perjalanan mereka dihadapkan pada padang rumput penuh bunga Lavender, tapi sayang, bunga Lavender hanya mekar di bulan April hingga Juni. Walaupun begitu, indahnya pemandangan tersebut sudah cukup menjadi penyemangat melawan lelah.

Tetiba dari jauh terlihat segerombol pria berbadan tegap sedang beristirahat di bawah teduhnya pepohonan sambil jajan semangka potong (Ya, ada penduduk setempat yang sengaja menjual potongan buah semangka untuk membantu para pendaki menghilangkan lelah). Ternyata mereka adalah sekelompok tentarangkatan darat yang sedang berlibur bersama. Genta menyapa dan berbincang sejenak dengan kelompok pria tegap.

Genta: “ wah mas, lagi istirahat sebelum lanjut kalan ke Kalimati ya?
Tentara: Iya nih, tapi kita justru lagi dalam perjalanan menuju Ranu Pane. Tadi malam kita berangkat dari Kalimati menuju puncak, terus dari puncak kita mau langsung turun nih menuju Ranu Pane.
Genta: wah, dingin ga mas di puncaknya? Perjalanan dari Kalimati ke puncak berapa lama?
Tentara: dingin banget, kita sampai di puncak jam 4 subuh. Berangkat dari Kalimati jam 12 malam. Debu pasirnya sih mas, yang bikin ga tahan; ini teman saya matanya sampai merah karena kami berlari menerobos semua debu itu, biar cepet sampai Ranu Pane.
Genta: hmm 4 jam ya? Bukan jalan, tapi lari dan sekarang mas dan temen-temen sedang berjalan dari Puncak menuju Ranu Pane? Dari puncak Mahameru ke Kalimati: 4 jam, dari Kalimati ke Ranu Kumbolo: 3 jam dan dari Ranu Kumbolo ke Ranu Pane: 6 jam. Total perjalanan kalian hari ini adalah 13 jam??
Tentara: Iya betul, yuk mari, kita lanjut ya
Genta: Oke mas, hati-hati. Enjoy perjalanannya.
Tentara: Yuk mari

Sekelompok tentara itu berjalan selama 13 jam. Tiga belas jam. Kaget dan agak bingung, Genta dan teman-teman melanjutkan perjalanan sambil menghabiskan sisa semangka potong yang baru mereka beli dan terus kagum akan stamina para tentara itu. Saat itu mereka baru sadar bahwa obrolan seru adalah obat bius yang baik untuk menghadapi lelah dan panjangnya perjalanan, tiba-tiba mereka sudah sampai di Kalimati.

Suasana haru dan takjub menyelimuti saat Genta melihat puncak Mahameru dari tempat mendirikan tenda di Kalimati.

Di sini Genta dan teman-teman harus beririt dalam menggunakan sisa air minum, namanya saja Kalimati; sumber air terdekat berjarak setidaknya satu jam perjalanan kaki. Sore itu mereka dengan sengaja tidur lebih awal karena mereka berencana untuk memulai perjalanan menuju puncak Mahameru jam 11 malam.

Alarm jam tangan berbunyi, saatnya untuk berangkat. semua barang bawaan ditinggal di dalam tenda bersama pak Bagio, seorang penduduk setempat yang ikut dalam perjalanan ini sebagai porter. Nyalakan lampu dan mereka mulai berjalan.

Hal pertama yang menjadi perhatian Genta adalah semakin menanjak, tanah yang mereka injak semakin berpasir. Semakin menanjak, mereka semakin sadar bahwa penjalanan mereka akan jauh berbeda dengan 4 jam perjalanan yang dikatakan oleh sekelompok tentara kemarin. maklum, beda stamina.

Tanah menanjak semakin curam, dengkul Genta menyentuh dada saat Genta mengangkat kaki kanan untuk melangkah maju. Dan di saat yang bersamaan kaki kiri Genta merosot setidaknya 5 cm karena tanah tersebut berpasir. Dalam medan pendakian seperti ini, semakin berat badan seorang pendaki, semakin sulit baginya untuk melangkah maju.

Saat mereka mulai sangat kelelahan, muncul rasa ingin menyerah karena tiap langkah terasa luar biasa berat. Berhenti sejenak untuk melihat ke arah bawah, terlihat indahnya langit subuh dan jalur menanjak yang telah mereka lewati, mereka sudah berjalan terlalu jauh dan menyerah bukan pilihan.

Tanah Datar! ada Tanah Datar..Alhamdulillah, puji syukur kehadirat illahi

Setelah 8 jam berlalu, akhirnya mereka sampai di puncah Mahameru, 3.676 meter di atas permukaan laut. Genta merasa sangat lega. Lalu tanpa di sadari, beberapa tetes air mata mengalir di pipi. Tanpa disadari, Genta tidak bisa menolak besarnya rasa haru yang meledak seketika.

Aku ada di puncak tertinggi di pulau Jawa, waktunya mengabadikan moment ini dengan kamera..

Berbaring tanpa peduli kerasnya batu di punggung, Genta memandangi langit biru yang mulai terik. Waktu menunjukan pukul 08:15 dan inilah waktunya mereka bergegas turun kembali ke Kalimati karena gas beracun dari kawah Mahameru mulai muncul. Lelah karena tidak mendapatkan tidur yang cukup dan medan pendakian yang berat, Genta dan mas Andre terpisah dari teman-teman lainnya. Saat menanjak, terlihat hanya ada satu jalan naik menuju puncak. Namun saat Genta hendak turun dari puncak menuju bawah, ada 3 jalur menurun yang berbeda. Teman-teman yang lainnya sudah lebih dulu berjalan jauh dan tidak terlihat sejauh mata memandang.

Keadaan jadi semakin gawat karena tiba-tiba mas Andre berbisik: ”aku  perlu buang air besar.” Namun sejauh mata memandang, hanya tanah berpasir tanpa ada satupun pohon atau semak untuk dijadikan toilet.

Selama kurang lebih 10 menit Genta dengan sengaja memandang ke arah hutan, mengalihkan pandangan dari mas Andre yang sedang buang hajat di atas tanah miring berpasir. Mereka tidak membawa banyak barang, hanya ada roti potong sebagai pengganti tisu untuk keperluan bersih-bersih mas Andre. #huft

Dengan menempuh jalur yang berbeda sambil ngobrol quality time, akhirnya mereka sampai di Kalimati. Membersihkan diri dengan seadanya, makan siang, istirahat, lalu mereka kembali berjalan menuju Ranu Kumbolo. Di situ mereka menghabiskan satu malam lalu kemudian melanjutkan perjalanan pulang ke titik awal, Ranu Pane.

Diiringi perasaan lelah dan bangga, mereka terus berjalan sambil terus disemangati oleh pak Bagio. Tidak hanya itu, sang porter juga berjanji untuk menjamu Genta, mas Andre dan kawa-kawan untuk makan siang di rumahnya jika mereka berhasil mempercepat perjalanan.

Waaah, bukan lagi pohon dan semak belukar, peradaban di depan mata.. Makan siang gratisan adalah salah satu iming-iming yang paling efektif.

Mereka sampai di kawasan perumahan penduduk lokal yang terletak di kaki gunung pukul satu siang. Satu per satu mereka mandi dengan air bersih ketika aroma sayur asam, telor dadar dan teh hangat yang manisnya pas mulai semerbak. Masakan itu sederhana namun sedapnya meresap hingga ke hati. Mungkin karena makanan itu dibuat dengan hati dan dalam suasana hangat canda tawa antara Genta, mas Andre, pak Bagio dan kawan-kawan.

Para pendaki itu kembali ke ibu kota Jakarta dengan perasaan yang murni dan siap kembali berjibaku dengan kerasnya lalu lintas hutan beton. Pesan pak Bagio: saat jalanmu menanjak, jangan mudah menyerah, karena setelah ujung bukit itu, akan ada jalanan menurun dan pemandangan indah tiada tara.

Keep in touch with us!
IG: @gentlemancode
FB: @gentlemancode.id
Twitter: @gentlemancodeid
Youtube: http://bit.ly/gentlemancodeyoutube

We welcome a Brotherhood relation for business, collaboration or partnership:
Email: hello@gentlemancode.id

KOMENTAR
terpopuler
Tekan enter untuk mulai mencari atau ESC untuk menutup kotak pencarian ini